Bank Indonesia Sibolga Kembali Dukung Wignyo Rahadi Gelar Fashion Show Koleksi Tenun Tapanuli di Rooftop Pelabuhan Laut Sibolga 

0
206

Ulos merupakan kain tradisional asal Tapanuli, Sumatera Utara, yang memiliki ragam jenis dan motif yang sarat makna. Ulos Harungguan disebut sebagai “Raja” Ulos di Tanah Tapanuli karena di masa lampau hanya dipakai oleh Raja dan kalangan terpandang sehingga dianggap memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan jenis Ulos lain. Keistimewaan Ulos Harungguan memiliki motif kompleks yang menggabungkan semua motif Ulos, sehingga tak ada pengulangan motif. Ulos Harungguan hanya dibuat oleh penenun di Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Sibolga telah melakukan binaan untuk mengembangkan kerajinan Ulos di Muara. Kain ulos yang semula terkesan kaku, berat, dan terbatas pada warna cenderung gelap dengan pewarna alam, diolah menjadi lebih ringan, lembut, dan pilihan warna lebih variatif, sehingga lebih nyaman dikenakan, tanpa meninggalkan motif tradisi yang menjadi identitasnya.

Kain Ulos Harungguan pengembangannya diaplikasikan oleh fashion designer Wignyo Rahadi dalam rangkaian koleksi bertema “Sahala” yang memadukan elemen histori dengan sentuhan modernitas sehingga mewujudkan tampilan yang baru. Koleksi berupa 20 outfit, terdiri dari busana kontemporer dan modest wear menggunakan Ulos Harungguan dalam pilihan warna cerah dan gelap yang berpadu harmonis, serta dikombinasikan dengan tenun ATBM motif Ulos sodum, full bintik, dan lurik. Ulos Harungguan kombinasi tenun ATBM ragam corak dituangkan dalam varian; blouse, outer, celana, longdress, hingga longcoat bergaya modern. Ditampilkan pula selendang Ulos yang menciptakan gaya klasik kontemporer.

Koleksi “Sahala” rancangan Wignyo Rahadi yang menggunakan Ulos Harungguan ditampilkan dalam acara Pagelaran Karya Kreatif Kain Tenun Tapanuli yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Sibolga pada tanggal 31 Agustus 2019 bertempat di Rooftop Terminal Pelabuhan Laut Sibolga.

 “Melalui Pagelaran Karya Kreatif Tenun Tapanuli yang menampilkan keindahan kain Ulos dalam bentuk busana siap pakai (ready to wear) diharapkan dapat turut mendorong sentra kain Ulos sebagai industri fashion. Dengan mengangkat kultur tradisi dan sentuhan modern sehingga memiliki daya pakai lebih tinggi, kain ulos dapat terus dilestarikan lintas zaman dan generasi, dan dapat diperkenalkan ke masyarakat lebih luas, tidak terbatas masyarakat Tapanuli, bahkan di negara lain. Dengan begitu dapat meningkatkan kesejahteraan pengrajin kain Ulos,” papar Wignyo Rahadi yang sebelumnya pernah mengembangkan selendang Ulos motif Ragidup dan meraih penghargaan World Craft Council Award of Excellence for Handicrafts in South-East Asia and South Asia 2014.

Keindahan busana dari kain Tenun Tapanuli ditampilkan di Rooftop Terminal Pelabuhan Laut Sibolga dengan latar arsitektur yang modern serta pemandangan alam saat sunset (senja) di area dermaga dan laut lepas yang memesona. Pagelaran Karya Kreatif Tenun Tapanuli ditujukan pula untuk mempromosikan Pelabuhan Laut Sibolga sebagai destinasi wisata di Kota Sibolga. 

Seperti yang disampaikan oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sibolga, Suti Masniari Nasution, “Pagelaran Karya Kreatif Tenun Tapanuli merupakan salah satu kontribusi nyata Bank Indonesia dalam mendukung pariwisata dan industri kreatif di Indonesia. Kami mengangkat warisan budaya leluhur, yaitu kain ulos Harungguan yang disajikan dalam tampilan modern yang disukai semua generasi. Terminal Pelabuhan Laut Sibolga dipilih menjadi lokasi fashion show sebagai dukungan promosi pariwisata Kota Sibolga yang layak untuk dikunjungi karena desain bangunan dan keindahan laut Sibolga terlihat jelas dari pelabuhan.”

 

TENTANG DESIGNER 

Wignyo Rahadi mulai tertarik dengan kerajinan tenun pada tahun 1995 saat bekerja di industri benang sutera sebagai Manajer Pemasaran karena sering berhubungan dengan pengrajin tenun dan batik untuk mensosialisasikan penggunaan benang sutera. Setelah memperdalam pengetahuan dan teknik ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin), pada tahun 2000, Wignyo mendirikan usaha tenun di Sukabumi, Jawa Barat dengan nama TENUN GAYA.

Wignyo konsisten mengembangkan desain dan teknik kerajinan tenun ATBM yang menghasilkan ragam kreasi baru seperti anyaman bintik, salur bintik, dan benang putus. Kecintaan terhadap wastra Nusantara dibuktikan Wignyo dengan konsisten mengangkat inspirasi dari motif kain tradisional dengan sentuhan modern agar dapat diterima oleh lintas generasi. Inovasi tanpa henti yang dilakukan Wignyo telah menciptakan begitu beragam motif tenun ATBM dengan ciri khas etnik kontemporer yang unik dan berbeda dengan yang lain. 

Tak hanya berkreasi dengan tenun ATBM yang dituangkan dalam bentuk kain, sarung, dan selendang, Wignyo menciptakan rancangan berupa ready to wear (busana siap pakai) seperti blouse, dress, kebaya kontemporer, dan kemeja pria. Bahkan Wignyo dikenal sebagai pelopor ‘Kemeja Tenun SBY’. Busana rancangan Wignyo dikenakan oleh Mantan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono beserta keluarga besar, antara lain seragam untuk Hari Raya Idul Fitri sejak tahun 2006 sampai tahun 2018. Busana rancangan Wignyo telah dipakai pula oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Iriana Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah Jusuf Kalla, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, serta tokoh publik lainnya. Selain itu, karya Wignyo telah dipercaya sebagai seragam sejumlah instansi dan acara, di antaranya seragam panitia dan tamu kehormatan acara Trade Expo Indonesia (TEI) sejak tahun 2012 hingga 2018. 

Dedikasi Wignyo untuk melakukan pengembangan kerajinan tenun secara berkelanjutan berhasil menuai berbagai apresiasi dari tingkat nasional hingga internasional, antara lain  Penghargaan sebagai Pemenang UNESCO Award of Excellence for Handicrafts in South-East Asia and South Asia 2012 untuk produk selendang pengembangan motif Rang-rang – Nusa Penida, Bali; World Craft Council Award of Excellence for Handicrafts in South-East Asia and South Asia 2014 untuk produk selendang pengembangan motif Tabur Bintang – Sumatera Barat dan produk selendang pengembangan motif Ulos Ragidup – Sumatera Utara; dan Peringkat I Lomba Selendang Indonesia 2018 oleh Adiwastra Nusantara kategori Selendang Tenun Katun dengan judul “Tapis Motif Belah Ketupat” dan Peringkat III Lomba Selendang Indonesia 2019 oleh Adiwastra Nusantara kategori Selendang Tenun Motif Songket Palembang Teknik Tenun Sobi Berjudul “Dua Sisi”. Selain itu, karya Wignyo telah ditampilkan dalam pameran maupun fashion show di beberapa negara, antara lain Jepang, Rusia, Dubai, Thailand, dan Filipina.

Wignyo turut bekerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintah, korporasi swasta, dan asosiasi atau lembaga swadaya masyarakat, antara lain Bank Indonesia, Dewan Kerajinan Nasional (Derkanas), dan Cita Tenun Indonesia (CTI) dalam memberdayakan dan meningkatkan ketrampilan terkait tenun dan desain para pengrajin di sejumlah daerah. Komitmen Wignyo dalam membina para pengrajin tenun di berbagai daerah mendapat penghargaan dari Pemerintah berupa UPAKARTI kategori Jasa Pengabdian pada bidang usaha pengembangan industri tenun di tahun 2014. Pengembangan industri tenun yang dilakukan di Sukabumi, Jawa Barat mendapat penghargaan One Village One Product (OVOP) bintang 4 dari Kementerian Perindustrian di tahun 2015.

Wignyo aktif sebagai pengurus Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) bidang Daya Saing Produk periode 2014 – 2019,  Traditional Textile Arts Society of South East Asia bidang Research & Development periode 2017 – 2022, dan sebagai National Vice Chairman Indonesian Fashion Chamber (IFC) bidang Institution Relations periode 2015 – 2019.  Sebelumnya menjabat sebagai Ketua Harian Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) periode 2015 – 2016.

○●○●||●○●○

☆☆☆☆■□●○☆☆☆☆

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here