Bank Indonesia Dukung Wignyo Rahadi Mendominasi Red Carpet MUFFEST’2019 Melalui Tenun DARA BARO & KAMOORU

0
411

DARA BARO — Sebuah rangkaian karya adibusana terbaik untuk trend di 2020 dari brand mode premium Indonesia, Tenun Gaya. Adalah Desainer Senior; Wignyo Rahadi, terpincut keindahan kerajinan seni bordir ala Aceh yang memiliki keunikan pada garis relief bernuansa etnik lagi berkesan semarak. Keindahan bordir aceh yang telah mendunia dan keanggunan desain yang selama ini menjadi ciri khas buah tangan Wingyo, berpadu harmonis menghasilkan koleksi modest wear unggulan yang berlenggok cantik di atas pentas red carpet pada MUFFEST 2019 kemarin.

Bertema Dara Baro, rangkaian koleksi adi busana ciamik ini diidominasi oleh warna merah, kuning, dan hijau di atas dasar hitam yang elegan. Wignyo Rahardi, pada gelaran MUFFEST tahun ini didukung oleh Bank Indonesia Perwakilan Lhokseumawe.

Bordir Aceh yang digunakan dalam koleksi ini merupakan hasil pengembangan yang dilakukan Wignyo kepada para pengrajin bordir di kota Lhokseumawe, Aceh. Dengan tetap mempertahankan motif tradisi yang menjadi identitas bordir Aceh, Wignyo mengembangkan ketrampilan pengrajin yang semula hanya membordir tas menjadi pembuatan bordir pada adi busana. Para pengrajin terbiasa membuat bordir tas dengan proses sangat cepat sehingga kualitas bordir cenderung kasar.

Melalui pembaruan yang dilakukan Wignyo, para pengrajin diarahkan untuk teknik bordir yang menghasilkan kualitas bordir lebih halus meskipun pengerjaannya dituntut lebih berhati-hati dan butuh waktu lebih lama. Selain itu, pembaruan jenis benang bordir dilakukan untuk menunjang hasil bordir lebih halus pada busana.

Rangkaian koleksi Dara Baro  detil demi detilnya menggunakan tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) dalam pilihan warna cerah lime green yang diaplikasikan bordir Aceh dengan benang warna emas yang kontras sehingga tampak menonjolkan ornamen bordir. Motif bordir khas Aceh yang digunakan antara lain motif Pinto Aceh, Pucok Rebong, Awan Beriring, dan Karawang Gayo.

Terinpirasi busana tradisional Aceh yang dikenal dengan istilah Dara Baro berupa padanan baju kurung dan celana, Wignyo mengembangkan inspirasi tersebut dengan sentuhan kontemporer. Koleksi Dara Baro meliputi padu padan celana dengan tunik atau kaftan, serta kebaya dikombinasi dengan outer (jubah) panjang.

Selain bordir Aceh, koleksi busana ini ditampilkan dengan aksentuasi patchwork (tenik perca) tenun ATBM serta, tenun corak Sobi dan tenun Salur Bintik yang merupakan ciri khas tenun ATBM produksi dari butik Tenun Gaya. Sentuhan bordir benang warna emas pada rangkaian koleksi  Dara Baro  terkesan mengabadikan gaya kontemporer dengan siluet yang ringan namun.., tetap membawa pesan elegan.   

KAMOORU Menenun telah menjadi kegiatan turun-temurun di Desa Masalili, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra). Hingga saat ini, Desa Masalili semakin berkembang menjadi sentra produksi kain tenun tradisional khas Muna.

Hampir setiap rumah di Desa Masalili menghasilkan kain sarung tenun yang dikenal dengan istilah Kamooru. Orang Muna percaya bahwa, untuk menenun Kamooru harus dengan jiwa yang bersih dan tenang. Jika tidak, penenun akan kesulitan merangkai motif yang memang cukup rumit dan sarat makna filosofis. Tenun asal Masalili identik dengan motif garis-garis dan warna terang seperti kuning, oranye, dan hijau.

Dengan didukung oleh Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara, desainer Wignyo Rahadi melakukan pengembangan terhadap kerajinan tenun di Desa Masalili, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara. Tenun hasil pengembangan tersebut diaplikasikan oleh Wignyo dalam rangkaian koleksi yang juga bertema Kamooru.

Ragam motif tenun yang digunakan adalah motif Kaholeno Ghunteli dan Panino Toghe yaitu, motif tenun yang biasa dipakai oleh masyarakat umum dalam aktivitas sehari- hari yang bersahaja. Ada juga Motif Bhia Bhia, yang kerap dipakai perempuan yang belum menikah. Dan tak luput, motif Dhalima yang umumnya dipakai kalangan bangsawan untuk upacara adat resepsi perkawinan.

Koleksi Kamooru dikembangkan dari inspirasi gaya busana Retro dengan menonjolkan permainan cutting yang bervolume, seperti model lengan setali, celana harem, rok draperi, dan dress aksen tumpuk, dilengkapi hijab model capuchon. Tenun Masalili dengan dominasi turunan warna hijau dipilih dengan kombinasi tenun Lurik dan tenun ATBM corak Sobi dan Bintik yang menjadi ciri khas tenun ATBM produksi Tenun GayaSentuhan ornamen tumpuk, draperi, dan asimetris turut menjadi daya pikat koleksi terbaru Wignyo Rahadi untuk arah mode tahun depan. Kamooru rangkaian demi rangkaian  Masterpiece adibusana dari tenun gaya dan desa Masalili.

Catatan Redaksi: Ajang MUFFEST 2019 JCC telah usai. Namun masih ada kesan yang tidak hilang dan menjadi catatan yaitu; Dukungan Bank Indonesia telah membuahkan sukses bagi Wignyo Rahadi mendominasi lintasan Red Carpet MUFFEST’2019 Melalui Tenun DARA BARO & KAMOORU. Langkah nyata BI (Bank Indonesia) berkolaborasi dengan pelaku dunia usaha industri mode busana tanah air patut diacungkan jempol. Menguatkan nilai Rupiah bisa melalui penguatan penggiat-penggiat ekonomi kreatif yang berbasis budaya adiluhung asli Mahakarya bangsa Indonesia.

¤¤¤¤¤|||¤¤¤¤¤

 

TENTANG DESIGNER

Wignyo Rahadi yang telah mendirikan usaha tenun dengan brand Tenun Gaya pada tahun 2000, konsisten terus mengembangkan desain dan teknik kerajinan tenun Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang mengangkat inspirasi dari motif kain dan kerajinan tradisional dengan sentuhan modern agar dapat diterima oleh lintas generasi. Inovasi tanpa henti yang dilakukannya telah menciptakan motif tenun ATBM dengan ciri khas etnik kontemporer. Wignyo kerap bekerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari instansi pemerintah, korporasi swasta, maupun asosiasi atau lembaga swadaya masyarakat, dalam memberdayakan ketrampilan terkait tenun dan desain para pengrajin di sejumlah daerah.

Komitmen Wignyo dalam membina para pengrajin tenun di berbagai daerah mendapat penghargaan dari pemerintah berupa UPAKARTI kategori Jasa Pengabdian pada bidang usaha pengembangan industri tenun tahun 2014. Selain itu, dedikasinya dalam revitalisasi kerajinan tenun telah menuai berbagai apresiasi dari tingkat nasional hingga internasional, di antaranya penghargaan Pemenang Lomba Selendang Indonesia 2019 dan 2018 oleh Adiwastra Nusantara Kategori Selendang Tenun Katun, Dekranas Award 2017 Karya Kriya Terbaik Kategori Tekstil, World Craft Council Award of Excellence for Handicrafts: South-East Asia Programme 2014, UNESCO Award of Excellence for Handicrafts: South-East Asia Programme 2012, dan lainnya.

Wignyo turut aktif di sejumlah asosiasi, antara lain sebagai Pengurus Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) periode 2014-2019 Bidang Daya Saing Produk. sebagai National Vice Chairman Indonesian Fashion Chamber di bidang Institution Relations periode 2015-2019. 

●○●○●○☆☆☆●○●○●○

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here