Merck Tbk, Dukung Kemenkes & Walkot Jakarta Timur Dalam Pekan Kesadaran Tiroid Internasional

0
1135

Merck, perusahaan sains dan teknologi terkemuka di dunia melalui kemitraan dengan Pemerintah Kota Jakarta Timur mendukung peresemian Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Gedong Trikora, di Kelurahan GedongKecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur (24/mei/17).

Asisten Administrasi dan Kesejahteraan masyarakat Pemkot Jaktim dalam sambutannya menyatakan, “RPTRA Gedong Trikora diharapkan dapat menjadi pusat berkumpul dan beraktivitas yang sehat bagi masyarakat sekitar. Kedepan, bekerjasama dengan berbagai pihak, Pemkot Jaktim akan terus menambah fasilitas yang dapat dinikmati publik sebagai salah satu bentuk Pemkot melayani masyarakat.”

Jajaran MERCK dan Jajaran Pemkot Jakarta Timur tinjau fasilitas yang tersedia di RPTRA Gedong Trikora

Peresmian RPTRA Gedong Trikora bertepatan dengan peringatan Pekan Kesadaran Tiroid Internasional 2017, untuk itu Merck juga memberikan edukasi kesehatan langsung kepada masyarakat yang hadir dalam peresmian mengenai gangguan tiroid.

Jajaran MERCK dan Jajaran Pemkot Jakarta Timur berphoto bersama usai peresmian RPTRA Gedong Trikora

Arryo Aritrixso Wachjuwidajat Direktur Pabrik PT Merck Tbk mengungkapkan, “Kami sangat antusias bisa ikut berpartisipasi mendukung program Pemerintah Kota Jakarta Timur, dengan melengkapi RPTRA Trikora dengan beberapa fasilitas Taman Sehat bagi masyarakat.”

“Kami juga berkomitmen untuk mendukung upaya pemerintah setempat menjadikan RPTRA Trikora sebagai RPTRA Plus yang secara maksimal dimanfaatkan untuk aktivitas masyarakat, dengan cari melakukan kegiatan edukasi kesehatan seperti yang dilakukan pada hari ini,” tambah Arryo.

Gangguan tiroid adalah gangguan yang menyerang kelenjar tiroid, biasanya berupa kelainan fungsi hipertiroid (kelenjar tiroid memproduksi terlalu banyak hormon tiroid) dan hipotiroid (kelenjar tiroid tidak cukup memproduksi hormon tiroid). Hormon tiroid sendiri sangat diperlukan dalam metabolisme tubuh, untuk membantu tubuh menggunakan energi agar tetap hangat, serta membuat otak, jantung, otot dan organ lainnya bekerja sebagaimana mestinya.

Suasana peresmian RPTRA Gedong Trikora

Evie Yulin, Direktur Biopharma PT Merck menambahkan, “Edukasi mengenai gangguan tiroid adalah komitmen jangka panjang Merck, tentu saja harus bekerja sama dengan berbagai pihak, di antaranya asosiasi dokter, organisasi pasien serta Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hari ini kami mendapat kesempatan istimewa untuk bertemu langsung dengan warga masyarakat di sekitar RPTRA dalam rangka melakukan edukasi mengenai tiroid. Sesuai dengan tema ITAW tahun ini, It’s not you. It’s your thyroid.’ AtauBukan Karena Anda, Tetapi Karena Tiroid Anda’;

“Melalui kegiatan edukasi di peresmian RPTRA Gedong Trikora ini, kami ingin menyadarkan masyarakat akan berbagai gejala umum gangguan tiroid yang sering disalahartikan dan diabaikan sebagai akibat kesibukan gaya hidup modern. Diharapkan dengan pemahaman yang cukup, masyarakat terutama kaum perempuan yang berisiko lebih tinggi terkena gangguan tiroid, dapat lebih waspada dalam mengenali gejala-gejala gangguan tiroid yang mirip dengan gangguan akibat gaya hidup modern, dan tidak mengabaikan gejala yang terlihat sepele sekalipun. Segera periksakan diri dan berkonsultasi dengan dokter bila mengalami gejala tersebut,“ tutup Evie Yulin pada kesempatan itu

Sebagai lanjutan dari komitmen Merck dalam Pekan Kesadaran Tiroid Internasional 2017, Merck juga mendukung kegiatan Seminar Publik dan Deteksi Dini Tiroid yang dilakukan di Ruang Siwabessy, Kantor Kementerian Kesehatan pada 26 Mei 2017

Edukasi Tiroid di ruang Swabessy Gd. Prof. Suyudi, Kantor Kemenkes RI Jl. H.R.Rasuna Said

Pasca peresmian RPTRA Gedong Trikora, lanjutkan sinergi memperingati Pekan Kesadaran Tiroid Internasional 2017, Merck dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia bersama Laboratorium Prodia kembali mengajak masyarakat untuk mengenali dan memahami gejala gangguan tiroid (26/mei/17).

Gejala gangguan tiroid sangat bervariasi dan tidak khas sehingga sering kali hanya dianggap sebagai keluhan akibat gaya hidup serba modern. Hal ini menjadikan gangguan tiroid diabaikan, tidak terdiagnosa sehingga terlambat diobati dan menurunkan kualitas hidup penderita.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI dr.Lily Sriwahyuni Sulistyowati, MM menyatakan, “Pada tahun 2015, Indonesia menempati posisi sebagai Negara dengan gangguan tiroid tertinggi di Asia Tenggara berdasarkan hasil riset IMS Health. Sebanyak 17 juta masyarakat Indonesia mengalami gangguan tiroid. Jumlah ini bisa jadi lebih tinggi karena masih banyak kasus gangguan tiroid yang belum terdiagnosa. Pekan Kesadaran Tiroid Internasional 2017 menjadi momen penting bagi kita untuk bersama-sama meningkatkan pemahaman seluruh lapisan masyarakat akan gangguan tiroid. Untuk itu kami menggandeng berbagai pihak untuk melakukan edukasi mengenai gangguan tiroid kepada masyarakat. Bersama Perkumpulan Endorkrinologi Indonesia (PERKENI) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pada hari ini kami juga meluncurkan buku saku informasi tiroid untuk masyarakat dan juga panduan terbaru penanganan gangguan tiroid untuk Dokter Umum di Fasiltas Kesehatan.”

Gangguan tiroid dapat menyerang siapapun, mulai dari janin sampai usai lanjut.

DR dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp(A)K FAAP, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menjelaskan, “Hormon tiroid pada bayi dan anak berperan penting untuk meningkatkan perkembangan otak dan tumbuh kembang. Gangguan tiroid dapat mengakibatkan gangguan tumbuh kembang dan gangguan perilaku pada anak-anak. Gangguan tiroid sejak lahir (Hipotiroid Kongenital-HK) dapat mengakibatkan retardasi mental. Angka kejadian HK secara global berdasarkan hasil skrining neonatal adalah 1:2000 sampai 1:3000, sedangkan pada era pra-skrining angka kejadiannya adalah 1:6700 kelahiran hidup. Program pendahuluan skrining HK Neonatal di 14 provinsi di Indonesia memberikan insiden sementara 1:2513. Sedangkan tahun 2016 melalui skrining di 5 provinsi menghasilkan insiden 1:226. Berdasarkan data registri HK UKK Endokrinologi Anak IDAI yang bersumber dari beberapa rumah sakit tertentu di Indonesia, sebagian besar penderita HK mengalami keterlambatan diagnosis sehingga mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan motorik serta gangguan intelektual.”

Dokter Aman Pulungan juga menambahkan, “Hasil penelitian saya dan tim di Indonesia, telah memperlihatkan keterlambatan pada pemberian terapi awal akan banyak mempengaruhi daya IQ, yaitu kira kira 51 pada kasus kasus yang mendapatkan terapi awal pada usia 1.5 tahun. Pada penelitian, juga memperlihatkan bahwa kadar FT4 normal mempertahankan perkembangan intelektual yang lebih baik pada sisa waktu perkembangan otak. Selain HK, gangguan Tiroid pada anak lainnya adalah hipertiroid dan hashimoto. Untuk kasus hipertiroid pada anak sebagian besar adalah penyakit graves. Penyakit Graves merupakan penyakit autoimun dengan insiden 0.1-3 per 100.000 anak.”

“Insiden nya meningkat sesuai umur jarang ditemukan pada usia sebelum 5 tahun dengan puncak insiden pada usia 10 – 15 tahun. Perempuan lebih sering dibandingkan lelaki dan riwayat keluarga dengan penyakit autoimun meningkatkan resiko sebesar 60%. Untuk insiden tiroiditis hashimoto di dunia siperkirakan sebesar 0,3 sampai 1,5 kasus per 1000 populasi per tahun. Perempuan 3-5 kali lebih sering terkena dibandingkan lelaki. Pada pasien DM tipe 1, sindrom down, sindrom turner lebih beresiko menderita tiroiditis hashimoto maupun kondisi autoimun lainnya.” urai dokter Aman Pulungan mengakhiri paparan hasil penelitiannya.

Sementara, Dr. Em Yunir SpPD-KEMD, PB PERKENI menjelaskan,Gangguan tiroid biasanya berupa kelainan fungsi hipertiroid (kelenjar tiroid memproduksi terlalu banyak hormon tiroid), hipotiroid (kelenjar tiroid tidak cukup memproduksi hormon tiroid) dan kanker tiroid.Gangguan fungsi tiroid seringkali sulit diidentifikasi karena gejalanya tidak spesifik, gejala gangguan tiroid sangat mirip dengan berbagai keluhan akibat gaya hidup modern sehingga sangat sering diabaikan. Akibatnya pasien seringkali tidak menyadari ada masalah pada dirinya dan tidak memeriksakan diri ke dokter.”

Beberapa gejala tersebut diantaranya :

  1. Kesulitan untuk menurunkan atau menambah berat badan, walaupun telah melakukan diet dan olah raga
  2. Perasaan cepat lelah atau aktifitas lamban
  3. Perasaan depresi, gelisah, mudah marah
  4. Kelainan haid
  5. Perasaan kurang istirahat dan/atau sulit tidur
  6. Kesulitan hamil
  7. Perasaan kurang bersemangat atau kehilangan motivasi
  8. Kesulitan berkonsentrasi
  9. Kesulitan buang air besar atau diare ser
  10. Penurunan kemampuan pendengaran secara signifikan.

“Sangat penting bagi masyarakat untuk mengenal dan memahami gangguan tiroid terutama gejalanya, sehingga dapat segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan diagnosa dan pengobatan yang tepat sejak dini,” tukas dokter Em. Yunir menyudahi paparan.

Evie Yulin, Direktur Biopharma PT Merck Tbk, dalam sambutannya menyatakan, “Merck bangga bisa melanjutkan kemitraan dengan Kementerian Kesehatan, para praktisi kesehatan dan juga Laboratorium Prodia dalam Pekan Kesadaran Tiroid Internasional 2017 ini. Sebagai bagian dari kampanye ITAW 2017,It’s not you. It’s your thyroid’ Bukan karena Anda, tetapi karena tiroid Anda. Merck mengadakan survei global mengenai tingkat kesadaran gangguan tiroid sekaligus gejalanya pada 6.000-an perempuan di tujuh negara, salah satunya Indonesia. Masih banyak responden yang menggangap tanda-tanda dan gejala gangguan tiroid sebagai gangguan akibat pilihan gaya hidup, sehingga tidak memeriksakan diri.”

Reskia Dwi Lestari, Marketing Communications Manager PT Prodia Widyahusada Tbk dalam kesempatan yang sama menyatakan, “Laboratorium klinik Prodia menaruh perhatian besar terhadap penyakit tiroid yang jika hanya melihat gejala klinis saja dapat terjadi kesalahan diagnosis penyakit tiroid sebagai kondisi lain misalnya hiperlipidemia, ketidakteraturan menstruasi, menopause, atau depresi. Prodia menyediakan pemeriksaan TSHs dan FT4 yang merupakan pilihan optimal untuk menentukan status tiroid tahap awal dan membantu diagnosis gangguan fungsi tiroid yang lebih baik sehingga penanganan menjadi tepat sasaran.”

— selesai —

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here