Komandan Kaveleri Pelajar Berkuda ‘Senopati’ Tung Desem Waringin, Satroni Sumur Maut Lubang Buaya, Apa Pasal?

0
312

Mengejutkan, pebisnis beken yang memiliki banyak perusahaan bonafide lintas sektor dan penulis buku best seller sekaligus, motivator ulung bertaraf internasional, Tung Desem Waringin, hari ini (7/6) bersama satu pasukan berkuda sekonyong-konyong menyatroni Monument Pancasila Sakti Lubang Buaya, Jakarta Timur.SenopatiTung Desem Waringin tidak datang sendirian, ia didampingi oleh Danru Pelajar SD Berkuda, Danru Pelajar SMP Berkuda, Danru Pelajar SMA Berkuda, Danru Santri Berkuda dan Danru Pendekar Berkuda.

Bisik-bisik akan kedatangan ‘Senopati Tung DW ke Monumen Pancasila Sakti, sebenarnya diterima oleh agen-agen lapangan redaksi hanya berselang beberapa jam saja sebelumnya. Namun, mungkin karena didesak oleh pertanyaan yang sama, mau apa sih sebenarnya, seorang yang sukses besar disana-sini seperti ‘Senopati Tung DW ke Lubang Buaya? Walhasil, aktivitas Tung DW kali ini tak luput diburu, dikuntit dan ditunggu oleh awak puluhan kantor berita bahkan, meskipun sebagiannya harus bersusah payah menumpang mobil pick up.

Kunjungan ‘Senopati’ Tung Desem Waringin atau yang biasa dipanggil ‘Senopati’ Tung DW disambut dengan ramah oleh Kepala Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya, Letkol. Winarsih beserta staf Pusjarah TNI; Mayor Edy Bawono, Mayor Muh. Basyir, Mayor A.Nurjaman dan Petugas Provost, Rohmat. Kepada Letkol. Winarsih, ‘Senopati’ Tung DW menjelaskan, kedatangannya dalam rangka untuk ikut aktif berparisipasi mengisi bulan Pancasila yang jatuh pada setiap bulan Juni.

Sebagaimana diketahui, Lahirnya Pancasila adalah judul pidato yang disampaikan oleh Soekarno dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai Badan Penyelidik Usaha Persiapan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 1 Juni 1945. Dalam pidato soekarno inilah, untuk pertama kalinya perumusan lima sikap hidup asli yang dimiliki oleh orang-orang Indonesia dan yang selama ini sudah diberlakukan sejak ribuan tahun lampau oleh setiap suku-suku bangsa seantero nusantara itu diberi sebutan “Pancasila“. Sehari setelah Kemerdekaan Indonesia (17/8/1945), tepatnya pada tanggal 18 Agustus 1945, Pancasila tetapkan sebagai Dasar Negara Indonesia.

Usai diberikan akses oleh Letkol. Winarsih, ‘Senopati Tung dengan ditemani oleh Mayor Edy Bawono segera melangkah memasuki area Lubang Buaya yang bersejarah. Bangunan pertama yang disinggahi adalah bekas rumah seorang simpatisan partai terlarang PKI (Partai Komunis Indonesia) yang bernama Bambang Hardjono. “Rumah yang masih sama bentuk dengan keadaan awal aslinya, sebagaimana pada saat terjadinya peristiwa G-30/S (Gestok) PKI bersenjata, ini adalah tempat dimana para Pahlawan Revolusi setelah diculik, diinterogasi dan disiksa dengan kesadisan yang luar biasa hingga, akhirnya dibunuh,” papar Mayor Edy Bawono kepada ‘Senopati Tung yang menyimak dengan khidmat.

Bangunan kedua yang disinggahi adalah cungkup “Sumur Maut Lubang Buaya” dimana, di sumur maut inilah jenazah para Jenderal penentang utama ideologi Komunis dijejali masuk dan diurug dengan tanah. Entah, sudah gugur entah masih bernyawa. “Itu adalah lambang Garuda Eka Paksi,” tunjuk Mayor Edy keatas pada sebuah ornamen yang bertengger gagah di bergola cungkup. “Garuda Eka Paksi adalah lambang yang menunjukkan kemampuan, kebijaksanaan dan jasa-jasa luar biasa pada bangsa dan negara yang melebihi panggilan kewajiban,” tambah Mayor Edy, membuat ‘Senopati Tung tertunduk, haru.

“Para Jenderal yang gugur disini bukan hanya memberikan nyawanya bagi keselamatan bangsa dan negara proklamasi’45 yang mana mereka ikut dirikan tetapi lebih daripada itu, dharma bhakti mereka merupakan suri tauladan abadi dan bukti nyata bahwa, bangsa ini adalah bangsa yang hidup kokoh dalam kebhinekaannya. Ekstrem kanan maupun ideologi ekstrim kiri akan berhadapan langsung dengan jati diri asli bangsa ini yaitu, kebhinekaan,” ujar ‘Senopati Tung DW seraya mengajak semua yang ada untuk berdoa kepada Tuhan YME sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing agar, arwah para Jenderal Pahlawan Revolusi diberikan tempat yang terbaik dan generasi yang ditinggalkan akan selalu gigih melanjutkan perjuangan.

Melanjutkan langkah menuju Monumen Pancasila Sakti, semua yang menyertai ‘Senopati Tung DW dikejutkan oleh aba-aba dari Mayor Edy, “Untuk arwah seluruh para Pahlawan Revolusi, hormaa..at, GERAK!” Perintah Mayor Edy yang penuh wibawa membuat ‘Senopati Tung DW spontan bersikap hormat sempurna bahkan, awak mediapun ikut larut bersegera memberikan penghormatan, banyak yang lupa untuk mengabadikan momen yang sakral itu.

“Karangan bunga ini adalah perwujudan rasa syukur kepada Tuhan YME dan bukti bahwa, kami tetap selalu setia, siap serta tak ragu untuk terus melanjutkan api perjuangan dan pengabdianmu, wahai Para Pahlawan Revolusi. Dharma Bhaktimu yang luar biasa pada bangsa dan negara tetap akan selalu kami ingat, ikuti dan teladani dimanapun dan sampai kapanpun,” sumpah ‘Senopati Tung DW ketika meletakan karangan bunga tepat di depan Monumen.

“5 Oktober tahun seribu sembilan ratus enam puluh lima.., adalah hari besar Angkatan Bersenjata kita yang paling menyedihkan. Hari itu adalah hari besar yang paling kelam bagi TNI khususnya, AD. Hari itu, dimana jenazah Para Pahlawan Revolusi dihantar dari MBAU (Markas Besar Angkatan Udara) Pancoran, menuju tempat peristirahatan terakhir TMP (Taman Makam Pahlawan) Kalibata,” tukas Mayor Edy, berat dan menyesakan dada ketika menjelaskan isi relief yang terpampang pada monumen.

Sebelum meninggalkan area monumen, ‘Senopati Tung DW, dengan tetap ditemani oleh Mayor Edy masih menyempatkan diri melihat keberadaan 2 bangunan bersejarah lain dalam area monumen. “Bangunan pertama adalah rumah pusat komando Gerakan Bersenjata 30 September PKI yang mana, pemilik rumah sebelumnya adalah orang Betawi yang bernama Bapak Syuaeb. Beliau sekeluarga diusir begitu saja oleh PKI. Dan, bangunan yang kedua juga dirampas dari pemiliknya, Ibu Amroh, untuk dijadikan dapur umum gerakan penghianatan itu,” papar Mayor Edy seraya mengantar rombongan berpamitan kepada Letkol. Winarsih.

“Kami berharap dengan kedatangan pak Tung DW dan kawan-kawan media bisa lebih terus menghidupkan nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan para pahlawan kusuma bangsa. Kami juga berharap, setiap generasi mewarisi semangat kepahlawanan yang diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari agar tidak pudar dan kehilangan jati diri sebagai bangsa. Sampai kapanpun, sebagaimana yang telah ditunjukan oleh Jenderal Besar Sudirman, Jenderal Besar AH. Nasution, Jenderal Besar Soeharto, Jenderal Sarwo Edhie dan para Pahlawan Revolusi bahwasannya, Tentara Nasional Indonesia akan selalu menjadi garda terdepan mengawal kehidupan bangsa dan Pancasila,” tutur Letkol. Winarsih melepas kepergian ‘Senopati Tung dan rekan-rekan pencari berita.

“Rekan-rekan wartawan, kehadiran saya disini pada bulan juni ini, adalah untuk pre-lounching buku terbaru saya LIFE REVOLUTION sekaligus mengingatkan bahwa, nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman hidup bangsa ini harus terus lestari dan seyogyanya diamalkan atau diaplikasikan dalam setiap lini kehidupan. Penting untuk disadari, bila bangsa kita kehilangan nilai-nilai Pancasila berarti kehilangan masa depan. Saya yakin, tidak ada masa depan gemilang sebagi bangsa bila kita, lupa jati diri kita sendiri,” urai ‘Senopati Tung DW mengakhiri kunjungannya. Bersama pasukan berkudanya, ‘Senopati Tung DW meninggalkan monumen yang sarat dengan nilai-nilai pengorbanan dan kepahlawanan itu, Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya.

——*****——

Berikut 10 nama Pahlawan Revolusi;
  1. Jenderal Ahmad Yani
  2. Letnan Jenderal Suprapto
  3. Letnan Jenderal Haryono
  4. Letnan Jenderal Siswondo Parman
  5. Mayor Jenderal Pandjaitan
  6. Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo
  7. Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo
  8. Kolonel Sugiono
  9. Kapten Pierre Tendean
  10. Ajun Inspektur Karel Satsuit Tubun

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here