Xela Pictures Ajak Sandiaga Uno Bongkar “Sara & Fei, Stadhuis Schandaal” di Era Jan Pieterszoon Coen

0
264

Sepanjang sejarah, hampir semua pemerintahan di dunia memiliki skandal. Seperti Skandal Iran Contra, Water Gate, Wikileaks dan 1MDB yang mengakibatkan UMNO di Malaysia tak lagi menjadi partai mayoritas di parlemen. Ada skandal yang tetap tersimpan rapi dan ada yang akhirnya terbongkar meski, perlu waktu hingga puluhan tahun atau bahkan, ratusan tahun.

Seperti Xela Pictures yang sukses merilis “Sara & Fei, Stadhuis Schandaal” sebuah skandal fiktif berbau romantisme di era pemerintahan Gouverneur-generaal van de Nederlandse Oost-Indië, Mijnheer Jan Pieterszoon Coen yang memerintah Hindia Belanda pada sekitar tahun 1620an. Membongkar sebuah skandal tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Perlu dukungan dari berbagai pihak. Xela Pictures serta merta menggaet Sandiaga Uno untuk bersama membongkar ‘Sara & Fei, Stadhuis Schandaal’ sekaligus juga menyelenggarakan Premier’s Gala Dinner  pemutaran perdana film ini di XXI Megaria, Cikini Menteng, Jakarta Pusat pada kemarin malam (20/7).

Tak dapat dipungkiri bahwa perfilman Indonesia semakin marak beberapa tahun belakangan ini, bukan hanya dari segi kuantitas saja namun juga dari sisi tema pun kian beragam. Menggembirakan, bermunculannya beberapa Production House baru yang mencoba berkiprah sehingga industri perfilman semakin semarak tiap tahunnya. XELA Pictures juga turut memperkenalkan film perdananya ini yang segera tayang di jaringan bioskop tanah air mulai tanggal 26 Juli 2018 mendatang.

Kiprah perdana XELA Pictures ini tentunya melihat adanya geliat industri film yang semakin bergairah dengan jumlah penonton film yang menjadi pasar potensial. Berdasarkan data dari
www.filmindonesia.or.id, pada tahun 2017, sebanyak 116 film panjang ditayangkan ke bioskop-bioskop Tanah Air dimana jumlah penonton meningkat dari 34,6 juta di tahun 2016 menjadi 37 juta penonton di tähun 2017.

“Kami melihat potensi penonton film di Indonesia masih sangat besar. Dengan memproduksi film berlatar belakang sejarah, kami pun ingin mengangkat budaya Indonesia ke manca negara
termasuk Tiongkok yang menjadi pasar kedua film perdana kami ini”, ujar Alexander Sutjiadi, Pemilik XELA Pictures dan Produser Eksekutif Film ‘Sara & Fei, Stadhuis Schandaal.

Di film perdananya ini, XELA Pictures menggandeng sutradara senior, Adisurya Abdy untuk menghadirkan sebuah film berlatar belakang jaman kolonial yang terjadi ratusan tahun lalu namur
dikemas dengan gaya kekinian.

“Saya memang tidak ingin membuat film sejarah, tetapi membuat film yang menggambarkan sebuah situasi atau sebuah episode yang konon pernah terjadi di jaman kolonial, yakni tentang gedung yang penuh dengan skandal”, jelas sutradara era tahun 1980 an yang ngetop dengan film Roman Picisan, Macan Kampus, Asmara, Ketika Cinta Telah Berlalu dan beberapa film populer
lainnya.

Kolaborasi perdana antara XELA Pictures dengan sutradara Adisurya Abdy ini pun melahirkan sebuah drama thriller dan misteri yang mampu menarik minat penonton usia muda. Segmen ini disasar karena merekalah yang paling banyak datang ke bioskop.

“Film ini menawarkan sesuatu yang berbeda dengan format kekinian, tetapi unsur-unsur historisnya tetap terpenuhi. Sehingga memberikan generasi baru untuk banyak mengetahui sejarah yang belum terungkap”, papar Adisurya Abdy lebih jauh.

Dengan kekuatan cerita, Omar Jusma yang menjadi Produser pun optimis film Sara & Fei, Stadhuis Schandaal dapat meraup banyak penonton. “Kami memasang bintang yang berpotensi dan memiliki karakter yang sesual dengan film ini”, jelas Omar

Seputar penggunaan kata berbahasa Belanda, Stadhuis Schandaal pun merupakan unsur kesengajaan. Seperti yang dijelaskan oleh sang sutradara. Setidaknya, agar penonton sejak awal
sudah mengetahui bahwa film ini memiliki latar belakang jaman Belanda.

Tak pelak, ini merupakan sebuah film drama yang meminjam situasi era kompeni dengan memakai kacamata anak muda masa kini atau yang biasa disapa dengan generasi millenials. Konsep artistik
pun disesuaikan dengan jaman itu. Sampai-sampai sang sutradara, Adisurya Abdy membangun set berupa tangsi dan benteng Belanda di atas tanah seluas 1.500 m2 di kawasan Pejaten, Pasar
Minggu, Jakarta Selatan yang digabung dengan teknologi visual effect, sebagaimana digunakan oleh industri perfilman modern saat ini.

“Kami sudah mencoba mencari bangunan-bangunan sisa peninggalan Belanda yang ada di Indonesia, tetapi tidak sesuai dengan kriteria dan mekanisme kerja yang akan kami lakukan. Untuk itu maka kami putuskan lebih baik membangun set sendiri agar kerja tim menjadi lebih bebas”,
terang sang sutradara

Hal menarik lainnya dari karya film terbaru Adisurya Abdy setelah vakum cukup lama ini adalah ia mengambil sejumlah aktor maupun aktris berpotensi yang kebetulan baru terjun di dunia film. Alhasil beberapa wajah baru disodorkan di film ini seperti Amanda Rigby, Tara Adia, Haniv Hawakin, Volland Volt dan Mikey Lie.

Film ini juga menghadirkan pemain pendukung yang sudah malang melintang di industri film nasional seperti, Anwar Fuady, George Mustafa Taka, Rowiena Umboh, Rensy Millano, Tio, Septian Dwi Cahyo, iwan Burnani, Julian Kunto, Aby Zabit El Zufri serta beberapa pemain
pendukung lainnya seperti Lady Salsabyla, Ricky Cuaca, Stephanie Ady, Iqbal Alif, Andhika Ariesta dan Yurike Cindy.

Penata musik film ini, dikerjakan oleh Areng Widodo, pemusik senior yang pernah beberapa kali bekerjasama dengan Adisurya Abdy dengan menyajikan musik yang cukup populer dan diaransemen ulang.

https://www.infodanproduk.com/wp-admin/post.php?post=4283&action=edit
Flyer

Sinopsis

Film ‘Sara & Fel, Stadhuis Schandaal’ berkisah tentang mahasiswi, Fei. Saat melakukan riset di kota tua Batavia, untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Fei didatangi gadis blasteran Belanda
Jepang bernama Sara. Suatu hari, setelah pulang dari Shanghai, Fel kembali mendatangi gedung Museum Jakarta, yang terkenal dengan nama Museum Fata
kota bernama Stadhuis. Tiba-tiba Sara kembali muncul dan tanpa disadari membawa Fei masuk ke lorong waktu menuju abad 17, masa Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon memerintah Batavia. Dari
sini cerita semakin menarik. penuh misteri dan pesan.

film ini mengambil lokasi syuting di dua negara yaitu lakarta, Pangkalan Bun Kalimantan (Indonesia) serta Shanghai dan Ningbo (Tiongkok).

Seputar XELA Pictures

XELA Pictures merupakan divisi film dari
bidang entertainment, termasuk rumah produksi. Kehadiran XELA Pictures diharapkan dapat memberikan pesan moral yang baik bagi masyarakat Indonesia melalui insustri perfilman.

Info Lebih Lanjut hubungi:

PT. Xela Pentas Komunika

Endah Dwi EkowatiPublic Relations

Email: endah.dwiekowati@amail.com

••••••°°°[][][][][]°°°•••••

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here