Kadep Ilmu Kedokteran Gigi Anak UI, “Gigi? Masalah Turun Temurun!”

0
154

DEPOK,- Belum lama ini, Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia bersama Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Universitas Indonesia mengadakan bakti sosial (23/7/2019) berupa edukasi kesehatan gigi pada anak-anak TK Nurul Muttaqien, Depok, Jawa Barat. Bakti Sosial jajaran pengajar UI ini berangkat dari rasa keprihatinan yang mendalam terhadap tingginya angka gangguan pada gigi yang dialami oleh anak Indonesia.

Merujuk pada data RISKESDAS KEMENKES RI (2018), sebanyak 93% anak Indonesia yang berusia 5-6 tahun mengalami gigi berlubang. Masalah yang dialami gigi sejak dini akan terus terbawa hingga dewasa.  Terbukti saat ini, sebanyak 57,6% orang Indonesia dewasa memiliki masalah gigi dan mulut.

Eva fauziah dokter gigiDr. Eva Fauziah, drg., Sp.KGA(K), Kadep Ilmu Kedokteran Gigi Anak UI yang ditemui di sela Bakti Sosial mengungkapkan, “Kebanyakan orang tua kurang menaruh perhatian terhadap kesehatan dan tumbuh kembang gigi anak. Umumnya, baru membawa anak memeriksa gigi setelah si anak menangis menahan rasa sakit akibat giginya mengalami masalah. Padahal lebih penting, bagi orang tua untuk menanamkan sikap rajin merawat sekaligus, rajin mengawasi tumbuh kembang gigi anak daripada, baru mengobati setelah timbul masalah. Penting sekali diperhatikan, lubang pada gigi meski kecil, tidak akan pernah bisa tertutup secara alami sampai kelak, gigi berlubang itu lepas dari gusi.”

Observasi lapangan yang dilakukan media pada beberapa orang dewasa yang telah dan tengah mengalami gangguan gigi, terungkap bahwa, Gigi palsu buatan manusia tidak pernah akan bisa menyamai kesempurnaan gigi asli ciptaan Tuhan. Rawat gigi sedari dini atau, sudah pasti menyesal kemudian!

“Peduli pada kesehatan perlu ditanamkan sejak dini. Melalui Bakti Sosial ini, jajaran Ilmu Kedokteran Anak UI menyiapkan wastafel-wastafel ramah anak dengan ukuran dan tinggi yang disesuaikan untuk anak-anak sehingga terhindar dari jatuh. Wastafel juga dilengkapi dengan mural petunjuk langkah yang baik mencuci tangan dan sikat gigi. Wastafel-wastafel ramah anak ini diharapkan bisa tersebar merata di setiap taman kanak-kanak. Tanamkan rasa peduli sejak dini, dan itu akan terus berlanjut hingga mereka dewasa sehingga, tercapailah Indonesia Bebas Karies,” tambah Eva Fauziah.

Eva fauziah dokter gigiDr. Eva Fauziah, drg., Sp.KGA(K), Kadep Ilmu Kedokteran Gigi Anak UI Seorang staf pengajar TK Nurul Muttaqien yang tidak ingin disebutkan namanya menyatakan dirinya dan rekan-rekan sesama guru menyampaikan terima kasih atas kepedulian jajaran Universitas Indonesia terhadap anak-anak peserta didik di TK Nurul Muttaqien. Para guru TK Nurul Muttaqien akan terus menanamkan sikap peduli sehat pada anak-anak didiknya.

“Bukan hanya gigi berlubang, gigi susu yang terlalu rapat juga bisa menjadi masalah karena, munculnya gigi tetap saat anak berusia 6 tahun akan kesulitan mencari celah untuk tumbuh. Selain perawatan dengan anak rajin menyikat gigi, para orang tua sebaiknya juga disiplin memeriksa perkembangan gigi anak pada dokter gigi secara berkala untuk setidaknya 4-6 bulan sekali. Sikap tidak peduli pada kesehatan gigi anak, akan terus terbawa ketika anak pada gilirannya telah menjadi orang tua. Sakit gigi memang bukanlah penyakit keturunan tapi, sikap tidak peduli pada tumbuh kembang gigi anak bisa menjadi masalah turun temurun,” tutup Eva Fauziah.

☆☆☆☆||☆☆☆☆

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here