Darwis Triadi “Filosofi Sang Begawan”

0
292

Beberapa waktu lalu (minggu, 3/6), pada sebuah lokasi yang terletak di ujung jalan Patimura tepat berhadapan dengan jalan Sudirman Jakarta, Darwis Triadi School of Photography menggelar Koempoel-koempoel & Boeka Poeasa Bareng Fotograper Lawas Analog. Moment bulan puasa ini rupanya juga dimanfaatkan oleh Darwis Triadi dan rekan-rekannya untuk berkumpul, bercerita, berbagi pengalaman, tips dan trick foto sekaligus, berbuka puasa bareng sesama anggota komunitas penggiat fotograpi yang masih tetap setia dengan kamera jadoel analog (non digital).

Sebagaimana pelukis legenda Indonesia, almarhum Basuki Abdulah dalam bidang seni corat-coret, nama besar Darwis Triadi sukar sekali dicari bandingannya dalam bidang seni jeprat-jepret. Baik Basuki Abdulah maupun Darwis Triadi, keduanya sama-sama gemar mengabadikan model wanita pada sejumlah besar karya-karya mereka.

Kuatnya karakter wanita dalam lukisan-lukisan Basuki Abdulah berujung pada terciptanya mitos: Goresan sang maestro jauh lebih cantik dan lebih indah daripada model aslinya! Serupa dengan Basuki Abdulah: Sensualitas maksimal yang diangkat melalui jepretan Darwis Triadi, mampu mengebiri binar-binar kemesuman dalam benak lelaki dan menggantinya dengan cahaya kekaguman pada satu kreasi Tuhan yang paling indah, wanita!

Lepas dari kemaestroan Basuki Abdulah, tentu saja, mewawancarai Darwis Triadi yang tengah santai menikmati hidangan buka puasa menjadi target utama. Berikut petikan wawancara yang berlangsung akrab;

Apa dasarnya seorang Darwis Triadi menekuni dunia fotograpi?
Sebelum terjun kedunia fotograpi, profesi saya adalah seorang pilot. Hidup adalah pilihan dan…, pilihan itu bisa berubah. Termasuk pilihan profesi menjadi seorang photographer dengan segala konsekuensinya.

Sudah berapa lama, seorang Darwis Triadi menekuni photography?
Usia saya sudah menginjak 64 tahun…, berarti, sudah nyaris 40 tahun saya menekuni pfofesi ini.

Apa yang membuat seorang Darwis Triadi bertahan beberapa dekade di puncak tangga teratas fotograpi Indonesia?
Spirit berfotograpi. Setidaknya dalam spirit berfotograpi itu mengandung empat unsur;
Pertama, spirit Kebersamaan atau perasaan senasib. Untuk mendapatkan uang dan ketenaran tidak perlu dengan persaingan yang mana seringkali persaingan itu bisa menghalalkan segala cara. Ada pilihan lain, yaitu kebersamaan atau perasaan senasib. Tanpa menciptakan persaingan antar fotograper, kita bisa maju dan meraih mimpi dengan satu sama lain saling mengisi, saling melengkapi dan saling mendukung. Bahasa politiknya, bersama kita bisa!
Spirit fotograpi yang kedua adalah spirit untuk iklash meletakan kejujuran dalam segala aspek kehidupan. Ketika seseorang itu sekali saja melakukan ketidakjujuran, ia akan cenderung untuk terus tidak jujur demi menutupi ketidakjujurannya. Bahayanya, dikemudian hari ketidakjujuran akan menjadi hal biasa dan bukan tidak mungkin sikap ketidakjujuran akan menjadi hal lumrah yang terjadi di segala bidang, apakah ekonomi, sosial ataupun ketidakjujuran politik.
Spirit yang ketiga adalah spirit memotivasi. Sebagai seorang fotograper saya harus bisa memotivasi orang lain tanpa takut tersaingi. Saya harus bisa menciptakan seribu Darwis Triadi bahkan kalau perlu, sejuta fotograper yang lebih piawai dari hanya seorang Darwis Triadi!
Spirit yang terakhir adalah evaluasi atau koreksi. Spirit ini perlu dikembangkan bukan hanya, dalam lingkup fotograpi tetapi pada segala lini kehidupan untuk, bisa diwariskan kepada generasi berikut agar lebih baik, lebih maju, lebih profesional, lebih berbudaya dan lebih arif. Begitu seterusnya spirit evaluasi ini diwariskan dari generasi ke generasi maka, suatu saat generasi Indonesia akan menjelma menjadi generasi yang terbaik diantara segala bangsa.

Menurut seorang Darwis Triadi, apa sih perbedaan seni fotograpi lawas dengan seni foto sekarang?
Sama saja sebenarnya, hanya kalau dulu kan, menyajikan sebuah karya foto dengan melalui berbagai proses yang detail sementara, saat ini fotograpi seakan-akan tinggal ceprat-cepret saja. Kalau dulu, seorang fotograpi memvisualkan suatu moment secara original dan akurat sedangkan saat ini, seorang fotograper cukup mengandalkan tekhnologi untuk menciptakan moment sesuai dengan keinginan.

Apa sih bedanya fotograper profesional dan amatir?
Tidak ada bedanya, hanya.., profesional itu memang profesinya dalam mencari nafkah sebagai fotograper sedangkan amatir itu, fotograpi hanyalah sebuah pekerjaan atau hobi sampingan.

Satu pertanyaan terakhir, Bagaimana seorang Darwis Triadi memandang politik dimana saat ini, bangsa Indonesia tengah bersiap untuk memasuki pemilu di tahun depan?
Politik itu mempengaruhi seluruh aspek kehidupan kita sebagai bangsa. Dulu, para pendiri negara tidak haus kekuasaan. Mereka berpolitik selayaknya negarawan besar. Politik adalah sebuah jalan dengan tujuan untuk memajukan dan mengangkat harkat martabat bangsanya. Berbeda dengan sekarang, politik saat ini adalah alat untuk menggapai kekuasaan dan uang. Politik saat ini jauh dari kesan elegan. Satu sama lain saling berusaha menjatuhkan. Bukan satu sama lain berusaha untuk saling melengkapi dan memberikan sumbangsih yang terbaik bagi bangsanya. Hanya gara-gara pandangan politik yang berseberangan, suku, agama, ras ataupun aliran yang berbeda serta merta dianggap musuh yang harus dihabisi. Seyogyanya, dalam berpolitik mengedepankan kesantunan dan norma. Tuhan telah menganugerahi bangsa ini dengan keramahtamahan dan toleransi yang besar dalam keberagaman. Tuhan sendirilah yang menciptakan perbedaan-perbedaan yang menjadi rahmat dan modal hidup bagi bangsa ini untuk maju kedepan. Janganlah membuat Tuhan marah dan mencabut berkahNya bagi bangsa ini karena tidak bersyukur atas adanya perbedaan-perbedaan yang pada dasarnya…, adalah kekayaan original bangsa ini. Tuhan menghendaki, dalam perbedaan kita bisa saling menghargai, tolong menolong dan bekerjasama. Tuhan tidak menghendaki, perbedaan menjadi alasan bagi kita untuk.., satu sama lain saling mencerca, saling merendahkan, saling mengancam dan saling menghabisi!

Bila, Almarhum Basuki Abdulah adalah sang maestro yang abadi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia maka, Darwis Triadi rasanya layak menyandang sebutan: “Sang Begawan yang tidak pernah lelah membangun filosofi kearifan melalui jalur seni fotograpi.”

******[]******

Fotograper lawas fober (foto bareng) usai bukber 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here