“BEHIND THE SEAMS BATIK KULTUR” KACA COFFEE & EATERY BY DEA VALENCIA

0
531

Sudah 8 tahun lamanya – Dea Valencia, Founder Batik Kultur – berkiprah di dunia Batik. Mengawali perjalanannya dengan berdagang Batik Lawasan – Dea Valencia mengerti betul tentang proses pembuatan Batik Tulis dari hulu ke hilir. Dibekali ilmu inilah Dea memantapkan diri untuk terjun di bisnis retail batik. Berawal dari satu orang penjahit di sudut rumahnya, kisah Batik Kultur dimulai.

“Matematika Tuhan tidak pernah salah” Kata kata inilah yang selalu dipegang oleh Dea Valencia yang semenjak tahun 2012 menerima penjahit difabel. Banyak orang yang meragukan kemampuan kaum disabilitas dalam bekerja, apalagi menjahit. Namun bagi Dea Valencia semua orang adalah sama, semua orang berhak untuk diberi kesempatan untuk berkarya. Pembuktian demi pembuktian dari setiap individu yang ditemuinya, dan kobaran semangat mereka – memantapkan Dea untuk terus maju bersama kaum difabel. Hingga kini, sekitar lebih dari 120 orang karyawan – termasuk 50 orang pekerja difabel berada dibalik label Batik Kultur.

November 2018 menandai langkah baru bagi Dea Valencia dengan dibukanya gerai kedua Batik Kultur di Jakarta. Dan pada bulan Maret 2019 Dea Valencia melakukan ceremony Grand Opening dengan menampilkan 30 koleksi ready-to-wear yang terdiri dari 6 Mini Collection womenswear dan menswear, seperti  gaun midi, blazer, long coat dan pairing set – tampil dalam palet klasik sekaligus vibran.

Dipresentasikan di Kaca Coffee & Eatery – Jakarta, rangkaian busana wanita dan pria dengan mood yang rileks dan luwes dihadirkan secara apik dalam berbagai macam warna, mulai dari Sogan, Monochromatic, Pastel hingga warna Hitam dengan kombinasi warna-warna cerah yang meberikan mood modern pada kain batik.

Yang menarik – keseluruhan bahan kain tradisional yang digunakan dalam Fashion Show kali ini – khusus di design oleh Dea Valencia dan diproduksi dari kain putih hingga menjadi kain Batik Tulis yang indah. Dalam prosesnya– Batik Kultur membagi  proses pengerjaan Batik di beberapa daerah – sesuai dengan teknik spesialisasinya, seperti di Solo untuk warna Sogan, Pekalongan untuk warna cerah dan Jepara untuk motif Tenun yang digunakannya.

Batik Tulis merupakan esensi penting dalam label Batik Kultur yang semenjak berdirinya telah secara eksklusif berkomitmen untuk hanya menggunakan bahan Batik Full Tulis – demi memberdayakan pengrajin-pengrajinnya.

Berbagai macam siluet, diperkaya oleh teknik layering yang menjadikan tiap tampilan terlihat lebih atraktif dan mendominasi keseluruhan koleksi. Pilihan material kombinasi yang ringan seperti katun bordir, lurik, dan brokat menyelaraskan keutuhan tema yang diangkat oleh Dea Valencia. Dengan ini, Batik Kultur membuktikan bahwa keindahan motif Batik dan Tenun Jawa Tengah memiliki pesona tersendiri yang tak terbantahkan.

Sebuah baju terbuat dari potongan potongan kain yang disatukan oleh benang. Meski jarang kita memperhatikan jalinan benang benang tersebut – merekalah yang sebetulnya menyatukan seluruh potongan kain hingga menjadi sebuah baju yang indah. Pada filosofi dasar Batik Kultur, benang-benang tersebut adalah orang orang yang berada dibalik Batik Kultur, mereka yang terkadang diremehkan, namun telah menghasilkan sebuah karya yang indah. Dan untuk itulah “Behind The Seams” dipersembahkan sebagai bentuk apresiasi dari Dea Valencia untuk mereka…

●○●○●○●

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here