Bambang Dahono Adji “Dosa Besar Jika Badak Benar-benar Punah!”

0
420

Jakarta 17 Mei 2017 – Badak Jawa dan Badak Sumatera, 2 dari hanya 5 spesies Badak yang ada di dunia merupakan bagian dari warisan satwa Indonesia, nyaris punah. Badak Sumatera, yang dapat dibedakan dengan cula yang kecil dan badan yang berbulu, dipercaya hanya mempunyai populasi kurang dari 100 ekor di alam bebas, satu wilayah kawasan hutan pedalaman di Kalimantan Timur dan yang terkonservasi di tiga taman nasional Sumatera :

  1. Taman Nasional Bukit Barisan
  2. Taman Nasional Gunung Leuser
  3. Taman nasional Way Kambas

Sebagai bagian dari komitmen untuk meningkatkan kesadaran dan membangun advokasi dengan masyarakat Indonesia terhadap upaya konservasi Badak Sumatera, enam organisasi nirlaba berbasis ilmu pengetahuan nasional dan luar negeri, dengan kontribusi dari The Walt Disney Company, telah membentuk Konsorsium Konservasi Badak Sumatera. Salah satu inisiatif konsorsium ini adalah dengan meluncurkan kampanye peningkatan kesadaran masyarakat, kegiatan, dan penggalangan dana bertajuk #KadoUntukDelilah.

Peluncuran kampanye ini dilakukan kemarin, Selasa, 16 Mei 2017, di Gedung Manggala Wanabakti dan dihadiri oleh perwakilan Konsorsium Konservasi Badak Sumatera serta Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Bapak Bambang Dahono Adji yang mewakili Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian LHK.

Bambang Dahono Adjie tengah memberikan keterangan pers usai peluncuran #kadountukdelilah

Bambang Dh dalam sambutannya menyatakan, “Pentingnya menjaga kelestarian alam, dosa besar bila kita sebagai bangsa gagal menyelamatkan Badak dari kepunahan.”

Konsorsium Konservasi Badak Sumatera adalah kelanjutan dari keberhasilan upaya bersama pada Suaka Rhino di Taman Nasional Way Kambas, Lampung yang telah sukses membiakkan dua Badak Sumatera dalam empat tahun, yaitu seekor Badak Sumatera jantan bernama Andatu dan seekor Badak Sumatera betina bernama Delilah. Kelahiran Andatu dan Delilah memberikan harapan akan masa depan Badak Sumatera, mengingat betapa sulitnya kelahiran spesies Badak Sumatera. Adapun Andatu merupakan kelahiran dalam penangkaran pertama yang berhasil setelah 124 tahun.

Gambar diambil dari leusercpnservation.org

Noviar Andayani, Country Director Indonesia Program dari Wildlife Conservation Society mengatakan, “Badak Sumatera sekarang sangat langka. Di habitat aslinya, kita tidak mengetahui jumlah pastinya karena metode kamera pengintai jarang melihat mereka, sehingga kita tidak tahu secara pasti. Perambahan dan perburuan manusia untuk tanduk mereka juga merajalela. Sangat penting bahwa kita harus melindungi mereka di alam bebas dan mengumpulkan populasi Badak Sumatera yang diketahui untuk dibiakkan segera bila memungkinkan. Dan, dari semua satwa langka kekayaan Indonesia, Badak adalah yang paling sulit berkembang biak.”

Konsorsium Konservasi Badak Sumatera terdiri dari :

  1. Yayasan Badak Indonesia (YABI)
  2. World Wide Fund for Nature Indonesia (WWF)
  3. Wildlife Conservation Society Indonesia (WCS)
  4. Forum Konservasi Leuser (FKL)
  5. Leuser International Foundation (LIF)
  6. International Rhino Foundation (IRF)

The Walt Disney Company, sepakat bermitra dalam mencapai tujuan bersama untuk menyelamatkan Badak Sumatera dari kepunahan.

Sebagai bagian dari kegiatan peningkatan kesadaran masyarakat dalam upaya untuk menyelamatkan Badak Sumatera, Konsorsium Konservasi Badak Sumatera mendorong seluruh masyarakat Indonesia untuk bergabung bersama #TimBadak dan mengundang mereka untuk ikut berkontribusi dalam kampanye #KadoUntukDelilah. Kampanye ini, selain bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, tetapi juga membangun advokasi melalui berbagai aktivitas dan saluran, termasuk media sosial dengan Delilah sebagai simbolnya. Delilah adalah Badak Sumatera termuda di Suaka Rhino Sumatera yang namanya berarti “hadiah dari Tuhan”, dan nama Delilah diberikan oleh Presiden Joko Widodo.

Nama kampanye ini, #KadoUntukDelilah, dipilih sebagai panggilan untuk seluruh masyarakat Indonesia agar berkontribusi memberikan hadiah berupa harapan bagi Delilah sehingga dia dapat mempunyai teman dan saudara-saudara lainnya untuk bermain, dengan cara melindungi dan membiakkan lebih banyak Badak Sumatera agar terhindar dari kepunahan. Masyarakat Indonesia diundang untuk berpartisipasi dengan mengkuti @BadakDelilah di Twitter, Facebook, Instagram, dan YouTube dan mengirimkan ucapan selamat yang kreatif untuk Delilah dengan #KadoUntuKDelilah. Ke depannya, kampanye ini akan melakukan kolaborasi dengan berbagai macam pihak, termasuk penggalangan dana pada platform terpilih agar dapat memberikan perlindungan, perawatan dan upaya konservasi terbaik untuk Badak Sumatera.

Widodo Ramono ingin terus berbuat agar Badak Sumatera bisa memperoleh habitat yang sesuai untuk berkembang

“Delilah adalah harapan kami untuk menambah jumlah Badak Sumatera di Indonesia dan di dunia, Kami berharap masyarakat akan mengikuti kampanye ini sehingga kita dapat memastikan program pembiakan dan konservasi yang berhasil. Kampanye ini akan memperkenalkan program-yang mendukung tujuan tersebut kepada publik selama setahun penuh,” tutup Widodo Ramono, Ketua Yayasan Badak Indonesia (YABI).

(dari kiri ke kanan), Cece Siefert (Deputy Director international Rhino Foundation), Bambang Dahono Adjie (Direktur Konservasi Kemenhut), Novia Andayani (Country Director Wildlife Conservation Society), Widodo Ramono (Direktur Eksekutif Yayasan Badak Indonesia) dan Subakir (Kepala Konservasi Way Kambas)

Mengenai Konsorsium Konservasi Badak Sumatera

Konsorsium Konservasi Badak Sumatera adalah kelompok dari enam organisasi konservasi berbasis penelitian yang bekerja sama untuk menyelamatkan Badak Sumatera. Termasuk The International Rhino Foundation (IRF), Yayasan Badak Indonesia (YABI), World Wide Fund for Nature – Indonesia (WWF), Wildlife Conservation Society (WCS), Forum Konservasi Leuser (FKL), dan Leuseur International Foundation (LIF). Komunikasi dari Konsorsium dikoordinasikan oleh IRF.

*****////*****

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here