Ketum Piye Kabare, “Tahun Politik Banyak Fitnah Politik, Perlu Kewaspadaan Politik”

Piye Kabare tak pernah berhenti menyuarakan agar Pak Harto dianugerahkan gelar Pahlawan Nasional

0
218

Jakarta-, Bertempat di Sovereign Plaza, TB. Simatupang, jumat (24/8) Organisasi Masyarakat Piye Kabare melantik jajaran kepengurusan untuk tahun bhakti 2018-2023. Pendiri Piye Kabare, Neneng A. Tuty dalam sambutannya mengungkapkan, “Tidak ada paksaan ataupun bujukan, bagi ribuan para pengagum almarhum Pak Harto untuk berkumpul dalam wadah Piye Kabare. Semua dapat bergabung atas kemauannya sendiri. Banyak jasa Pak Harto bagi bangsa yang bisa kita teladani dan lestarikan. Sebagai pemimpin, almarhum sangatlah memperhatikan ketersediaan kebutuhan pangan rakyat yang harus terjangkau namun, petani harus tetap sentosa. Mengenang masa kepemimpinan beliau, masyarakat Indonesia jauh dari kesan hingar bingar dan hidup tidaklah terlalu hiruk pikuk seperti sekarang ini. Semuanya berjalan dalam suasana saling tenggang rasa, keramahan Indonesia yang khas, penuh toleransi, saling bantu, saling peduli pada sesama, aman dan damai.”

Setelah melalui beberapa seremoni formal, perhelatan diselingi makan malam dan sekaligus dimeriahkan oleh sederetan aksi yang menghibur. Hadirin disuguhi pertunjukan operet, drama parody, DJ Performance dan juga, penampilan musisi ibukota di sela-sela acara ramah tamah, saling bersilahturahmi sesama pengurus yang baru dilantik, anggota maupun simpatisan dari Piye Kabare.

Ditemui seusai pelantikan, Sekretaris Jenderal Piye Kabare, Dedi Lesmana memaparkan, “Saat ini, Piye Kabare telah memiliki 1.200san pengurus yang tersebar pada berbagai propinsi dan kota di seluruh Indonesia. Sering saya sangat terharu ketika saya menjumpai para personil maupun simpatisan Piye Kabare di berbagai daerah. Mereka merindukan betul banyak hal-hal baik yang berlangsung di masa kepemimpinan Pak Harto bisa dirasakan kembali oleh generasi kini dan seterusnya. Menurut mereka, pada era sekarang banyak orang yang lebih suka mementingkan diri dan keluarganya saja. Tidak lagi mau ambil peduli ketika sesamanya susah, ditimpa musibah, mengalami kecelakaan ataupun menghadapi marabahaya. Saya menjawab, untuk itulah Piye Kabare hadir!”

Sementara, Rosdiana salah seorang simpatisan Piye Kabare yang turut datang menghadiri acara menuturkan, “Saya merasa nyaman bergabung dengan Piye Kabare. Keramahtamahan, kesederhanaan, sopan santun dan bahu membahu yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia seolah benar-benar telah kembali. Saya berharap, Piye Kabare dapat terus berkiprah melestarikan nilai-nilai luhur dan adi luhung milik bangsa kita.”

Ditemui disela-sela jamuan makan malam, Erawan seorang penggerak pendidikan dari tanah Betawi menyatakan, “Saya tidak akan pernah bisa melupakan ketika di akhir tahun 70-an, seorang rekan saya asal Sulawesi menangis sesenggukan ketika kaget kali pertama mendapatkan mendapat Beasiswa Supersemar yang digagas oleh Pak Harto. Jujur saja, kebutuhan rekan saya sebagai mahasiswa kost-kostsan sangat terbantu dengan adanya beasiswa tersebut. Saya membayangkan, puluhan ribu alumni beasiswa Supersemar mungkin pernah merasakan hal yang sama. Bahkan, mungkin banyak pula pesantren-pesantren kala itu terbantu fasilitas ibadahnya melalui Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila. Bagi saya, Pak Harto bukan hanya seorang pemimpin yang kharismatik dan kebapakan tapi, beliau adalah juga pejuang pendidikan bangsa.”

dokpri

Didampingi Dedi Lesmana, ditengah acara ramah tamah dengan awak media, Ketua umum Piye Kabare, Kemal Subadha mengungkapkan, “Piye Kabare dalam aspirasi politiknya berafiliasi dengan Partai Berkarya. Mengapa? Pertama, Piye Kabare adalah kumpulan anggota masyarakat yang rindu dengan pemimpin yang begitu bijaksana seperti Pak Harto yang saat ini, diwakili oleh Partai Berkarya. Dan.. yang kedua, banyak usulan Caleg yang berasal dari Piye Kabare direspon sangat positip oleh Partai Berkarya bahkan, berhasil lolos verifikasi pencalegan tanpa keluar uang sepeser rupiahpun! Jika ada berita bahwa, Piye Kabare menargetkat jumlah tertentu pada setiap caleg yang diusung, saya tegaskan itu adalah fitnah politik. Mungkin ada banyak pihak yang ketar-ketir Partai Berkarya pada pemilu 2019 akan menjadi partai besar karena salah satu ormas pendukungnya adalah Piye Kabare. Nah, saya minta kepada para wartawan untuk lebih mewaspadai dan turut berperan aktif mencounter isyu-isyu yang mendiskreditkan sebuah lembaga atau seorang individu. Saya menyebutnya, di tahun politik ini, seyogyanya kita semua termasuk para wartawan, perlu kewaspadaan politik, agar berita yang tersebar di masyarakat bisa lebih sejuk dan lebih bisa dipertanggungjawabkan.”

###########

Tentang Piye Kabare

Pada sekitar tahun 2005, Dedi Lesmana bertemu dengan Bp. Noegroho (Alm.), seorang pengemudi truk angkutan hasil bumi asal Pati Jawa Tengah resah terhadap iklim reformasi yang menurutnya telah kebablasan.  Almarhum merasakan betul perbedaan kehidupan masyarakat yang harmonis pada era kepemimpinan Pak Harto bila dibandingkan dengan kehidupan masyarakat pada era reformasi yang cenderung saling menyalahkan dan menghalalkan segala cara bahkan, kalau perlu dengan sikut sana sikut sini. Almarhum secara spontan menggrafity badan bak truknya dengan meme wajah Pak Harto yang tersenyum ramah sembari menyapa, “Piye Kabare.., penak zamanku, tokh?”  Cara penyampaian aspirasi yang unik khas Pak Noegroho tak lama menjangkiti pemilik dan pengemudi truk hasil bumi yang lain yang ikut ramai-ramai menggrafity badan bak truknya pula. Piye Kabare akhirmya menjadi wabah dimana-mana dalam bentuk banyak media lain, seperti stiker bahkan spanduk dan billboard.

Akhirnya, sebagai kelanjutan aspirasi spontan dan unik yang telah mewabah di seluruh Indonesia itu, pada sekitar tahun 2011 digagaslah oleh beberapa orang sebuah komunitas yang bernama “Piye Kabare”. Adapun para penggagas komunitas Piye Kabare adalah; Dedi Lesmana, Rudiyanto dan Neneng A. tuty.

Perkembangan berikutnya, dalam rangka menyambut antusiasme dan aspirasi simpatisan Piye Kabare yang semakin membesar, komunitas Piye Kabare  merubah diri menjadi sebentuk wadah keormasan yang disepakati bersama oleh Dedi Lesmana, Neneng A. tuty, Kemal Subadha, Atiek MA dan Suwarno.

——0000—–

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here