Ketua Umum Bamus Betawi, “Presiden Singapura Inspirasi Perdamaian Etnis Se-Asia Tenggara”

0
522
Foto disadur dari okezone.com / antaranews.com aksi Teater Fataria STAIN

Di Indonesia, menyambut Hari Perdamaian Internasional, beberapa waktu lalu, (Rabu, 13/9/2017), sejumlah mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) yang bergabung dalam Teater Fataria STAIN, Pamakasan, Jawa Timur telah menggelar aksi teatrikal bertajuk “Save Rohingya” di halaman kampus STAIN.

Foto disadur dari detik. com Puan dan delegasi Indonesia dalam Sidang Majelis Umum PBB

Sementara dari New York, Amerika Serikat, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani saat menghadiri Peringatan Hari Perdamaian Dunia di Majelis Umum PBB (21/9) tahun ini menyerukan, “”Dalam hidup yang problematik, kini kita tidak bisa menang sendiri, merasa benar sendiri. Situasi jangan dibawa ke jalan buntu. Pintu dialog harus terus dibuka. Khusus dalam konflik Rohingya, Indonesia akan memberikan perhatian lebih.” Puan juga berpesan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk terus mengawal perdamaian dengan konsisten menjaga nilai-nilai persatuan, gotong royong, saling menghormati, dan toleran

Foto disadur dari Jakarta.go.id

Senada dengan Puan, Di Jakarta, tahun baru Islam 1 Muharam dan Hari Perdamaian Dunia yang pada tahun ini jatuh bersamaan, tepatnya pada tanggal 21 September  2017 kemarin, diperingati oleh organisasi induk wadah penduduk asli Jakarta berhimpun, Bamus Betawi dengan menandatangani sebuah Petisi yang akan disampaikan kepada Sekretaris Jenderal ASEAN. 

ASEAN baru saja melewati usianya yang ke-50. Wadah berhimpunnya bangsa-bangsa Asia Tenggara yang selalu menjunjung tinggi perdamaian dan persamaan derajat ini, tercoreng dengan kasus kekerasan masif yang menimpa sekitar satu juta orang etnis Rohingya di Myanmar.

“Perlakuan sewenang-wenang, diskriminasi dan kekerasan yang dilakukan oleh etnis penguasa terhadap etnis marginal, tidak patut lagi berlaku dalam wilayah negara-negara yang telah bergabung dalam ASEAN. Kita sudah sepakat, bangsa-bangsa yang berhimpun dalam ASEAN untuk melangkah maju bersama-sama dalam suasana kawasan yang aman, sejuk dan damai,” tukas Kepala Div. Kominfo Bamus Betawi, M. Ridwan atau yang akrab dengan panggilan Bang Boim saat membuka acara penandatanganan Petisi di kantor Sekretariat Bamus Betawi.

Bang Boim (21/9)

“Hari Perdamaian Dunia yang jatuh bertepatan dengan Tahun Baru Islam menegaskan bahwa sesungguhnya Islam itu adalah agama yang membawa perdamaian dan keselamatan bukan, agama teror. Perlu diketahui, kejahatan kemanusiaan seperti genocida adalah terorisme yang dilakukan oleh negara terhadap penduduknya,” tambah Bang Boim.

Adapun isi daripada Petisi Bamus Betawi yang ditujukan kepada ASEAN adalah sebagai berikut :

  1. Lebih mengedepankan keberadaan ASEAN sebagai Kawasan Regional yang menjunjung tinggi  nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab
  2. Mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna tegaknya kemanusiaan dan kedamaian bagi etnis Rohingya  di Myanmar jika perlu, membentuk ‘satuan tugas persaudaraan etnis ASEAN dengan tetap mengedepankan Myanmar yang kuat, bersatu dan berdaulat
  3. Membentuk lembaga persaudaraan non government antar etnis ASEAN guna peningkatan ‘Civil Society’ dan sekaligus mencegah berulangnya kembali pertikaian, kekerasan, penindasan dan diskriminasi etnis di seluruh Negara anggota ASEAN
  4. Mendorong terciptanya Ratifikasi Anti Diskriminasi Ras dan Etnis di Negara-negara ASEAN sebagaimana yang telah berlaku di Indonesia sesuai dengan amanat Undang-Undang Republik Indonesia No. 40 Th. 2008
Bang Oding (21/9) bercukin merah dihadapan media

Ketua Umum Bamus Betawi, H. Zainuddin atau yang lebih dikenal dengan sapaan akrab Bang Oding, dihadapan media ibukota dalam sambutannya saat menandatangani Petisi berujar, “Bamus Betawi memberikan penghargaan setingi-tingginya atas upaya kemanusiaan yang telah dilakukan oleh Presiden RI untuk Rohingya. Namun, bukan hanya kewajiban Pemerintah tapi kewajiban kita semua anak bangsa untuk ikut berpartisipasi aktif dalam memelihara perdamaian. Hal itu sesuai dengan amanat Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 yakni, turut memelihara keamanan dan ketertiban dunia yang berdasarkan pada perdamaian abadi dan berkeadilan sosial. Bagaimanapun, kehidupan yang damai adalah budaya bangsa-bangsa Asia Tenggara, termasuk kita di dalamnya.”

Foto disadur dari situs berita aljazeera.com

Sebagaimana diketahui, etnis Rohingya di Myanmar sampai saat ini belum memiliki status kewarganegaraan sehingga mereka kesulitan memperoleh akses ekonomi, pendidikan maupun kesehatan

“Bamus Betawi berharap, penderitaan etnis Rohingya segera berakhir dan mereka bisa membangun masyarakatnya untuk lebih sejahtera dalam suasana Myanmar yang berdaulat, aman, sejuk, damai dan maju. Kedepan, semoga tidak terjadi lagi pertikaian etnis dan permusuhan etnis di seluruh wilayah Asia Tenggara. Jika nanti bisa terbentuk Lembaga Persaudaraan Etnis ASEAN, sudah semestinya hubungan antar etnis dalam kawasan regional bisa dibangun lebih nyata, harmonis dan kokoh. Pernyataan Presiden Singapura bahwa, beliau adalah Presiden Bagi Semua Etnis patut untuk menginspirasi semua stake holder ASEAN” lanjut Bang Oding.

Bang Oding juga menghimbau untuk memperhatikan betul sambutan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang telah disampaikan dalam peringatan ke-50 Tahun ASEAN, agar semua pihak mau dan bijak mengambil pelajaran dari kasus Brexit, dimana ASEAN harus bisa dirasakan manfaatnya oleh penduduk warga bangsa di kawasan Asia Tenggara.

 

*******8888*******

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here